MENJADI PIMPINAN YANG DICINTAI*
Kepemimpinan bukan hanya tentang kemampuan mengatur, tetapi tentang kemampuan menyentuh hati. Tidak semua pemimpin ditaati karena cinta; sebagian ditaati karena posisi. Namun pemimpin yang dicintai akan ditaati dengan kerelaan, didoakan dalam diam, dan dibela dalam ketiadaan.
Al-Qur’an menghadirkan potret kepemimpinan ideal melalui pribadi Rasulullah ﷺ. Allah Ta‘ala berfirman:
فَبِما رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ. إِنْ يَنْصُرْكُمُ اللَّهُ فَلا غالِبَ لَكُمْ وَإِنْ يَخْذُلْكُمْ فَمَنْ ذَا الَّذِي يَنْصُرُكُمْ مِنْ بَعْدِهِ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ.
Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya. (QS. Al-Ali Imran [3]: 159-160)
Ayat ini turun setelah peristiwa Perang Uhud, saat sebagian sahabat melakukan kesalahan strategis. Namun Allah tidak memerintahkan Nabi ﷺ untuk mencela atau mempermalukan mereka. Justru Allah menegaskan bahwa kelembutan adalah rahmat, dan kekerasan hati adalah sebab perpecahan.
Syaikh Wahbah al-Zuhaili Rahimahulllah menjelaskan,
(لِنْتَ لَهُمْ) اللِّينُ: الرِّفْقُ وَالتَّسَاهُلُ فِي الْمُعَامَلَةِ، أَيْ سَهُلَتْ أَخْلَاقُكَ إِذْ خَالَفُوكَ. {فَظًّا} سَيِّئُ الْخُلُقِ، شَرِسُ الطِّبَاعِ. {غَلِيظَ الْقَلْبِ} قَاسِيًا جَافِيًا لَا يَتَأَثَّرُ قَلْبُهُ بِشَيْءٍ. {لَانْفَضُّوا} تَفَرَّقُوا مِنْ حَوْلِكَ. {فَاعْفُ} تَجَاوَزْ عَمَّا أَتَوْهُ. {وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ} ذَنْبَهُمْ لِأَغْفِرَ لَهُمْ. {وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ} تَعَرَّفْ عَلَى آرَائِهِمْ فِي سِيَاسَةِ الْأُمَّةِ فِي الْحَرْبِ وَالسِّلْمِ وَشُؤُونِ الْحَيَاةِ الدُّنْيَوِيَّةِ تَطْيِيبًا لِقُلُوبِهِمْ، وَلِيَسْتَنُّوا بِكَ، وَكَانَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَثِيرَ الْمُشَاوَرَةِ لَهُمْ. {فَإِذَا عَزَمْتَ} عَلَى إِمْضَاءِ مَا تُرِيدُ بَعْدَ الْمُشَاوَرَةِ. {فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ} ثِقْ بِهِ بَعْدَ الْمُشَاوَرَةِ، وَالتَّوَكُّلُ: الِاعْتِمَادُ عَلَى اللَّهِ فِي كُلِّ أَمْرٍ.
“(Maka) engkau bersikap lemah lembut kepada mereka.” Kelembutan adalah sikap ramah dan kemudahan dalam bermuamalah. Maksudnya, akhlakmu menjadi lembut ketika mereka menyelisihimu. “(Sekiranya engkau bersikap) keras.” Yaitu buruk akhlaknya dan kasar tabiatnya. “(Dan berhati kasar).” Yaitu keras dan kaku, hati yang tidak terpengaruh oleh apa pun. “Niscaya mereka akan menjauh.” Yakni mereka akan berpencar dan meninggalkanmu. “Maka maafkanlah.” Artinya, maafkanlah apa yang telah mereka lakukan. “Dan mohonkanlah ampun untuk mereka.”
Atas dosa mereka agar Aku (Allah) mengampuni mereka. “Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.”
Yakni ketahuilah dan dengarkan pendapat mereka dalam mengatur urusan umat, baik dalam perkara perang maupun damai serta urusan kehidupan dunia, sebagai bentuk penghargaan dan untuk menenangkan hati mereka, serta agar mereka meneladanmu. Dan Nabi ﷺ adalah orang yang sangat sering bermusyawarah dengan para sahabatnya. “Kemudian apabila engkau telah bertekad.” Untuk melaksanakan apa yang engkau kehendaki setelah musyawarah, “Maka bertawakallah kepada Allah.” Yakni percayalah kepada-Nya setelah bermusyawarah. Dan tawakal adalah bersandar kepada Allah dalam setiap urusan. (al-Tafsir al-Munir, IV: 139)
Di sinilah rahasia kepemimpinan yang dicintai: kelembutan bukan kelemahan. Ia adalah kekuatan emosional yang mengikat hati.
Memaafkan, Mendoakan, dan Bermusyawarah
Allah melanjutkan perintah-Nya:
فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ
“Maka maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka…”
Ada tiga langkah membangun cinta dalam kepemimpinan:
1. Memaafkan
Pemimpin yang dicintai tidak menyimpan dendam organisasi. Ia mampu melampaui kesalahan personal demi maslahat yang lebih besar.
2. Mendoakan
Lebih dari sekadar memaafkan, ia memohonkan ampun untuk orang yang keliru. Ini menunjukkan kelapangan jiwa dan ketulusan hati.
3. Bermusyawarah
Musyawarah bukan formalitas, tetapi bentuk penghargaan. Ketika seseorang didengar, ia merasa dihargai. Ketika dihargai, ia akan mencintai.
Rasulullah ﷺ adalah orang yang paling sering bermusyawarah dengan para sahabat, padahal beliau menerima wahyu. Ini menunjukkan bahwa musyawarah bukan karena kurangnya ilmu, tetapi karena kemuliaan akhlak.
Kemudian Allah berfirman:
فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ
Setelah musyawarah, pemimpin harus tegas dalam keputusan dan bersandar penuh kepada Allah. Pemimpin yang dicintai bukan yang ragu-ragu, tetapi yang tegas setelah mendengar semua suara.
Cinta Timbal Balik antara Pemimpin dan Rakyat
Rasulullah ﷺ bersabda:
عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ الْأَشْجَعِيَّ رضي الله عنه يَقُولُ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يقول (خِيَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ. وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ. وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ. وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ) قَالُوا قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ! أَفَلَا نُنَابِذُهُمْ عِنْدَ ذَلِكَ؟ قَالَ (لَا. مَا أَقَامُوا فِيكُمُ الصَّلَاةَ. لَا مَا أَقَامُوا فِيكُمُ الصَّلَاةَ. أَلَا مَنْ وَلِيَ عَلَيْهِ وَالٍ، فَرَآهُ يَأْتِي شَيْئًا مِنْ مَعْصِيَةِ اللَّهِ، فَلْيَكْرَهْ مَا يَأْتِي مِنْ مَعْصِيَةِ اللَّهِ، وَلَا يَنْزِعَنَّ يَدًا مِنْ طَاعَةٍ). قَالَ ابْنُ جَابِرٍ: فَقُلْتُ (يَعْنِي لزريق)، حِينَ حَدَّثَنِي بِهَذَا الْحَدِيثِ: آللَّهِ! يَا أَبَا الْمِقْدَامِ! لَحَدَّثَكَ بِهَذَا، أَوْ سَمِعْتَ هَذَا، مِنْ مُسْلِمِ بْنِ قَرَظَةَ يَقُولُ: سَمِعْتُ عَوْفًا يَقُولُ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم؟ قَالَ: فَجَثَا عَلَى رُكْبَتَيْهِ وَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ فَقَالَ: إِي. وَاللَّهِ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ! لَسَمِعْتُهُ مِنْ مُسْلِمِ بْنِ قَرَظَةَ يَقُولُ: سَمِعْتُ عَوْفَ بْنَ مَالِكٍ يَقُولُ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم.
Dari ‘Auf bin Malik Al-Asyja‘i ra., ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: “Sebaik-baik pemimpin kalian adalah orang-orang yang kalian cintai dan mereka mencintai kalian; kalian mendoakan mereka dan mereka mendoakan kalian. Dan seburuk-buruk pemimpin kalian adalah orang-orang yang kalian benci dan mereka membenci kalian; kalian melaknat mereka dan mereka melaknat kalian.” Para sahabat berkata: “Wahai Rasulullah, tidakkah sebaiknya kami memerangi mereka ketika itu?” Beliau menjawab: “Tidak, selama mereka masih menegakkan salat di tengah-tengah kalian. Tidak, selama mereka masih menegakkan salat di tengah-tengah kalian. Ketahuilah, barang siapa dipimpin oleh seorang penguasa, lalu ia melihat penguasanya melakukan suatu bentuk kemaksiatan kepada Allah, maka hendaklah ia membenci kemaksiatan yang dilakukan itu, namun jangan sekali-kali ia melepaskan tangan dari ketaatan.” (Hr. Muslim, Shahih Muslim, III: 1482: 1855)
Hadis ini menunjukkan bahwa indikator keberhasilan kepemimpinan bukan hanya capaian program, tetapi hubungan batin antara pemimpin dan yang dipimpin. Imam Abū al-‘Abbās Aḥmad bin ‘Umar bin Ibrāhīm al-Qurṭubī (578–656 H) menegaskan,
وَقَوْلُهُ: خِيَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ؛ أَيْ: تَدْعُونَ لَهُمْ بِالْمَعُونَةِ عَلَى الْقِيَامِ بِالْحَقِّ وَالْعَدْلِ، وَيَدْعُونَ لَكُمْ بِالْهِدَايَةِ وَالْإِرْشَادِ وَإِعَانَتِكُمْ عَلَى الْخَيْرِ، وَكُلُّ فَرِيقٍ يُحِبُّ الْآخَرَ لِمَا بَيْنَهُمْ مِنَ الْمُوَاصَلَةِ وَالتَّرَاحُمِ وَالشَّفَقَةِ وَالْقِيَامِ بِالْحُقُوقِ، كَمَا كَانَ ذَلِكَ فِي زَمَنِ الْخُلَفَاءِ الْأَرْبَعَةِ، وَفِي زَمَانِ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ. وَنَقِيضُ ذَلِكَ فِي الشِّرَارِ، لِتَرْكِ كُلِّ فَرِيقٍ مِنْهُمَا الْقِيَامَ بِمَا يَجِبُ عَلَيْهِ مِنَ الْحُقُوقِ لِلْآخَرِ، وَلِاتِّبَاعِ الْأَهْوَاءِ وَالْجَوْرِ وَالْبُخْلِ وَالْإِسَاءَةِ، فَيَنْشَأُ عَنْ ذَلِكَ التَّبَاغُضُ وَالتَّلَاعُنُ وَسَائِرُ الْمَفَاسِدِ.
Adapun sabda beliau: “Sebaik-baik pemimpin … mendoakan kalian.” yakni, kalian mendoakan mereka agar mendapatkan pertolongan dalam menegakkan kebenaran dan keadilan. Dan mereka pun mendoakan kalian agar memperoleh hidayah, bimbingan, serta pertolongan dalam melakukan kebaikan. Setiap pihak mencintai pihak lainnya karena adanya hubungan yang erat, kasih sayang, rasa belas kasih, dan pelaksanaan hak-hak masing-masing. Keadaan seperti ini pernah terjadi pada masa Khulafaur Rasyidin dan juga pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz ra. Adapun kebalikannya terjadi pada pemimpin-pemimpin yang buruk. Hal itu disebabkan karena masing-masing pihak meninggalkan kewajiban yang seharusnya ia tunaikan terhadap pihak lainnya, serta mengikuti hawa nafsu, berbuat zalim, kikir, dan melakukan keburukan. Maka dari situlah muncul saling membenci, saling melaknat, serta berbagai kerusakan lainnya. (Al-Mufhim limā Asykala min Talkhīṣ Kitāb Muslim, IV: 65: 1433)
Karakter Pemimpin yang Dicintai
Dari ayat dan hadis di atas, dapat dirangkum bahwa pemimpin yang dicintai memiliki karakter berikut:
1. Lembut dalam sikap, tegas dalam prinsip.
2. Lapang dada dalam memaafkan.
3. Tulus mendoakan kebaikan bagi bawahannya.
4. Terbuka terhadap musyawarah.
5. Tegas dalam keputusan setelah pertimbangan matang.
6. Bertawakal dan tidak bergantung pada popularitas.
Pemimpin seperti ini tidak haus pujian, tetapi rindu keberkahan. Ia tidak mengejar loyalitas buta, tetapi membangun kepercayaan.
Cinta yang Melahirkan Keberkahan
Ketika pemimpin dan anggota saling mencintai karena Allah:
· Doa mengalir tanpa diminta.
· Kritik disampaikan dengan adab, bukan kebencian.
· Loyalitas tumbuh dari kesadaran, bukan tekanan.
· Organisasi bergerak dengan energi kolektif yang positif.
Inilah yang disebut kepemimpinan rahmah — kepemimpinan yang menjadi rahmat bagi lingkungannya.
Sebaliknya, pemimpin yang keras, egois, dan tidak peduli akan kehilangan hati para pengikutnya. Mungkin struktur tetap berdiri, tetapi ruh organisasi akan mati.
Kepemimpinan sebagai Amanah Cinta
Menjadi pimpinan yang dicintai bukan berarti mencari simpati, tetapi menghadirkan rahmat. Ia dimulai dari hati yang bersih, akhlak yang lembut, dan ketergantungan penuh kepada Allah.
Karena pada akhirnya, kemenangan bukanlah pada banyaknya pengikut, tetapi pada keberkahan yang Allah turunkan melalui kepemimpinan tersebut.
Semoga Allah menjadikan kita pemimpin yang dicintai karena keadilan, dihormati karena akhlak, dan didoakan karena ketulusan. Wallâhu A’lam. Hanafi Anshory.
*Taujih Muspimleng PD Pemuda PERSIS Kab. Bandung 2026-2029. Jum’at, 13-02-26 di Kantor Bersama PD PERSIS Kab. Bandung.