GAGAL MERENCANAKAN SAMA DENGAN MERENCANAKAN KEGAGALAN

11 Mar 2026

PERENCANAAN PROGRAM SEBAGAI KEWAJIBAN SYAR‘I DAN AMAL JAMA’I*

 

Perencanaan Program sebagai Kewajiban Syar‘i dan Amal Jama‘i

Setiap gerakan yang besar selalu diawali dengan visi yang jelas. Dan setiap visi yang jelas menuntut perencanaan yang matang. Dalam Islam, perencanaan bukan sekadar teknik manajerial modern, melainkan bagian dari kesadaran takwa dan tanggung jawab masa depan.

Allah Ta‘ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ...

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah ia persiapkan untuk hari esok….” (QS. Al-Hasyr: 18)

Ayat ini menjadi fondasi teologis penting dalam membangun budaya perencanaan. Perintah “waltanzhur nafsun mā qaddamat lighad” bukan hanya ajakan untuk introspeksi spiritual, tetapi juga dorongan untuk berpikir visioner dan futuristik.

Al-Qurthubi menegaskan bahwa kata “ghad” (hari esok) mencakup: 1masa depan dunia, dan 2masa depan akhirat. Beliau menjelaskan:

(وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ) يَعْنِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ. وَالْعَرَبُ تَكُنِّي عَنِ الْمُسْتَقْبَلِ بِالْغَدِ.

“Dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah ia persiapkan untuk hari esok”, yang dimaksud dengan “hari esok” adalah Hari Kiamat. Orang-orang Arab biasa menggunakan kata “besok” sebagai kiasan untuk masa depan.

وَمَعْنَى مَا قَدَّمَتْ يَعْنِي مِنْ خَيْرٍ أَوْ شَرٍّ.

Makna “apa yang telah ia persiapkan” adalah apa saja yang telah diperbuat, baik berupa kebaikan maupun keburukan.

(وَاتَّقُوا اللَّهَ) أَعَادَ هَذَا تَكْرِيرًا، كَقَوْلِكَ: اعْجَلِ اعْجَلِ، ارْمِ ارْمِ.

Firman-Nya: “Dan bertakwalah kepada Allah” diulang kembali sebagai bentuk penegasan, seperti ungkapan: “segeralah, segeralah” atau “lemparlah, lemparlah.”

وَقِيلَ التَّقْوَى الْأُولَى التَّوْبَةُ فِيمَا مَضَى مِنَ الذُّنُوبِ، وَالثَّانِيَةُ اتِّقَاءُ الْمَعَاصِي فِي الْمُسْتَقْبَلِ.

Ada pula yang berpendapat bahwa takwa yang pertama bermakna bertaubat dari dosa-dosa yang telah lalu, sedangkan takwa yang kedua bermakna menjaga diri dari perbuatan maksiat di masa yang akan datang.

(إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِما تَعْمَلُونَ) قَالَ سَعِيدُ بْنُ جُبَيْرٍ: أَيْ بِمَا يَكُونُ مِنْكُمْ. والله اعلم.

Firman-Nya: “Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”, Sa‘id bin Jubair berkata: yaitu Allah Maha Mengetahui apa saja yang muncul dan terjadi dari diri kalian. Wallâhu A’lam. (Tafsir Al-Qurthubi, XVIII: 43)

Maka, merancang program dakwah dan organisasi adalah implementasi langsung dari perintah ayat ini, karena ia adalah bentuk persiapan amal kolektif untuk masa depan umat.

 

Kegagalan Merencanakan adalah Kelalaian yang Dilarang

Seringkali kegagalan organisasi bukan disebabkan oleh kurangnya semangat, tetapi karena lemahnya perencanaan. Islam tidak mengajarkan spontanitas tanpa ilmu. Allah Ta‘ala berfirman:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ...

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak memiliki ilmu tentangnya.” (QS. Al-Isrā’: 36)

Imam Asy-Syaukani menjelaskan:

ثُمَّ أَمَرَ سُبْحَانَهُ بِإِصْلَاحِ اللِّسَانِ وَالْقَلْبِ فَقَالَ: ‌وَلا ‌تَقْفُ ‌مَا ‌لَيْسَ ‌لَكَ ‌بِهِ ‌عِلْمٌ أَيْ: لَا تَتَّبِعْ مَا لَا تَعْلَمُ...

Kemudian Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā memerintahkan perbaikan lisan dan hati, lalu berfirman: Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai ilmu tentangnya”, maksudnya: janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak engkau ketahui. (Tafsir Fathul-Qodir, III: 269)

Makna Kontekstual Ayat ini melarang: 1tindakan tanpa data, 2keputusan tanpa analisa dan 3amal tanpa perencanaan. Dalam konteks organisasi, program yang tidak berbasis data dan analisis adalah bentuk mengikuti sesuatu tanpa ilmu, yang secara syar‘i tercela. Karena itu, pernyataan manajerial: “Jika kita gagal merencanakan, maka kita sedang merencanakan kegagalan” sejalan sepenuhnya dengan prinsip Al-Qur’an.

 

Itqan: Profesionalisme sebagai Nilai Ibadah

                Dalam tradisi Islam, perencanaan bukan sekadar strategi, tetapi bagian dari itqan — bekerja secara profesional dan sungguh-sungguh.

                Para ulama menjelaskan bahwa itqan (profesional dan sungguh-sungguh) mencakup: 1perencanaan yang matang, 2pembagian tugas yang jelas dan 3evaluasi berkelanjutan. Imam Al-Munawi pada kitab Asy-Syamā’il asy-Syarīfah, hlm. 177 (disarikan dari kitab Fayḍ al-Qadīr) menyatakan bahwa itqan tidak mungkin terwujud tanpa perencanaan dan manajemen yang baik, beliau menjelaskan:

كَانَ إِذَا عَمِلَ عَمَلًا أَثْبَتَهُ، أَيْ أَحْكَمَ عَمَلَهُ، بِأَنْ يَعْمَلَ فِي كُلِّ شَيْءٍ بِحَيْثُ يَدُومُ دَوَامَ أَمْثَالِهِ، وَذَلِكَ مُحَافَظَةً عَلَىٰ مَا يُحِبُّهُ رَبُّهُ وَيَرْضَاهُ، لِقَوْلِهِ فِي الْحَدِيثِ الْمَارِّ: إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ.

Ia (Rasulullah ﷺ) apabila melakukan suatu pekerjaan, maka beliau meneguhkannya, yaitu menyempurnakan dan mengokohkan pekerjaannya dengan cara melaksanakannya pada setiap urusan sedemikian rupa sehingga hasilnya dapat bertahan sebagaimana semestinya. Hal itu dilakukan sebagai bentuk penjagaan terhadap apa yang dicintai dan diridai oleh Rabb-nya, berdasarkan sabda beliau dalam hadis yang telah disebutkan: “Sesungguhnya Allah mencintai apabila salah seorang di antara kalian melakukan suatu pekerjaan, ia melakukannya dengan sebaik-baiknya (itqan).” (HR. Abu Ya’la, 4386. Ath-Thabrani, al-Ausath, 897. Al-Baihaqi, 4929)

                Itqan dalam konteks organisasi mencakup:

1.        Perencanaan yang matang dan realistis.

2.       Pembagian tugas yang jelas dan proporsional.

3.       Timeline yang terukur.

4.       Evaluasi berkala dan perbaikan berkelanjutan.

                Tanpa perencanaan, itqan tidak mungkin terwujud. Tanpa itqan, dakwah kehilangan wibawa dan efektivitasnya.

 

Kerja Kolektif dan Kolaboratif dalam Islam

Islam bukan agama individualistik. Ia dibangun di atas semangat jamaah dan kolaborasi. Allah Ta‘ala berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى...

“Dan tolong-menolonglah kalian dalam kebajikan dan ketakwaan.” (QS. Al-Mā’idah: 2). “Tidak akan tegak agama kecuali dengan jamaah, dan tidak akan kuat jamaah kecuali dengan kepemimpinan dan keteraturan.” Kerja kolektif lintas bidang adalah manifestasi nyata dari prinsip ta‘āwun. Wallâhu A’lam.

                Kerja kolektif tidak mungkin berjalan baik tanpa koordinasi dan perencanaan. Ta‘āwun membutuhkan arah bersama, target bersama, dan pembagian peran yang jelas. Di sinilah urgensi musyawarah, rapat kerja, penyusunan rencana strategis, dan evaluasi tahunan.

Para ulama menegaskan bahwa agama tidak akan tegak kecuali dengan jamaah, dan jamaah tidak akan kuat kecuali dengan kepemimpinan dan keteraturan. Keteraturan inilah yang diwujudkan melalui perencanaan.

Tanpa rencana, semangat akan cepat padam. Tanpa struktur, potensi akan tercecer. Tanpa target, kerja menjadi seremonial belaka.

 

Dari Spiritualitas Menuju Strategi

Sebagian orang keliru memahami bahwa perencanaan adalah urusan duniawi semata. Padahal justru perencanaan adalah wujud keseriusan spiritual. Orang yang benar-benar takut kepada Allah akan berhati-hati dalam merancang amalnya, karena ia sadar setiap langkah akan dipertanggungjawabkan.

Perencanaan adalah bentuk tawakal yang benar. Tawakal bukan berarti pasrah tanpa persiapan, tetapi maksimal dalam ikhtiar dan total dalam penyerahan hasil kepada Allah.

Sejarah Islam membuktikan bahwa Rasulullah ﷺ merencanakan hijrah dengan sangat matang: memilih waktu, menentukan rute, menunjuk penunjuk jalan, menyiapkan logistik, hingga mengatur strategi pengelabuan. Itu semua menunjukkan bahwa perencanaan adalah sunnah perjuangan.

 

Membangun Budaya Visioner

Maka, dalam konteks jam’iyyah dan organisasi dakwah, perencanaan bukan pilihan, melainkan kewajiban syar‘i dan kebutuhan strategis.

Gagal merencanakan berarti:

·         Mengabaikan perintah Allah untuk mempersiapkan masa depan.

·         Mengikuti tindakan tanpa ilmu.

·         Mengabaikan prinsip itqan.

·         Melemahkan kerja kolektif.

Sebaliknya, perencanaan yang baik akan:

·         Menguatkan arah perjuangan.

·         Menyatukan potensi kader.

·         Menumbuhkan profesionalisme.

·         Menghasilkan keberlanjutan dakwah.

Semoga Allah menjadikan setiap langkah perencanaan kita sebagai amal shalih yang dipersiapkan untuk “hari esok” — baik esok dalam kehidupan dunia maupun esok di hadapan-Nya kelak. Wallāhu A‘lam biṣ-ṣawāb. Hanafi Anshory.

 


*Taujih Muspimleng PD Pemuda PERSIS Kab. Bandung 2026-2029. Jum’at, 06-02-26 di Kantor Bersama PD PERSIS Kab. Bandung.