FIQH LEBARAN
Penyusun: Rifqy Fathin al-Bukhariy
DEFINISI IDUL FITHRI
Lafazh Idul Fithri berasal dari dua lafazh yang diidhafahkan; al-'Id dan al-Fithru. Al-'Id merupakan mashdar dari 'aada ya'uudu yang berarti kembali atau berulang. Adapun al-'Id yang dimaksud dalam konteks hari raya ialah sebagaimana yang dijelaskan Ibnu Atsir:
الْعِيْدُ: كُلُّ يَوْمٍ يُجْتَمَعُ فِيهِ، وَسُمِّيَ عِيدًا لِأَنَّهُ يَعُوْدُ كُلَّ سَنَةٍ بِفَرَحٍ مُجَدَّدٍ.
Al-'Id adalah setiap hari yang manusia berkumpul di dalamnya, dan dinamakan 'Id karena ia kembali setiap tahun dengan kegembiraan yang diperbarui. (al-Nihayah fi Gharib al-Hadits wa al-Atsar, III: 319)
Sedang al-Fithru maknanya ialah al-Ifthar yang berarti berbuka shaum. Al-Fithru diartikan al-Ifthar sebagaimana penjelasan dari Nabi saw. berikut:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ، وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ، وَالْأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ.
Dari Abu Hurairah, bahwa Nabi saw. bersabda: "Shaum adalah pada hari kamu shaum, al-Fithru adalah pada hari kamu berbuka, dan al-Adha adalah pada hari kamu menyembelih." (Hr. at-Tirmidziy, Sunan at-Tirmidziy, II: 74, no. 697)
Namun sebagian orang dan sebagian asatidz menjelaskan bahwa al-Fithru diartikan al-Fithrah. Hemat penulis hal demikian dianggap kurang tepat. Sebab secara defisini al-Fithru dan al-Fithrah itu berbeda. Arti al-Fithrah itu adalah:
الجبلة المتهيئة لقبول الدين.
Watak atau bakat yang siap untuk menerima agama.
Artinya agama itu adalah aturan-aturan yang cocok dengan fitrah manusia. Tidak mungkin ada aturan-aturan agama yang bertentangan dengan fitrah manusia. Dengan demikian, maka arti al-Fithrah dan al-Fithri itu berbeda. Al-Fithri artinya berbuka shaum. Sedangkan al-Fithrah artinya kecocokan untuk menerima agama. Syaikh Muhammad Ali as-Shabuniy menjelaskan makna al-Fithrah sebagai berikut:
الفطرة: المراد بها الدين الحنيف.
Al-Fithrah ialah agama yang lurus. (Min Kunuz Al-Sunnah: 11)
Kemudian lafazh al-'Id dan al-Fithru ini menjadi satu lafazh, yaitu Idul Fithri yang lafazh tersebut digunakan untuk menyebut perayaan umat Islam dan kaum muslimin disyari'atkan untuk merayakan dan berbahagia atasnya. Ibnu Qudamah mendefinisikan Idul Fithri sebagai berikut:
وَعِيدُ الْفِطْرِ هُوَ الْيَوْمُ الَّذِي يُفْطِرُ فِيهِ الصَّائِمُونَ بَعْدَ إِتْمَامِ صِيَامِ رَمَضَانَ.
Idul Fithri adalah hari yang orang-orang shaum berbuka setelah menyempurnakan shaum Ramadhan (selama satu bulan penuh). (al-Mughniy, III: 253)
قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا.
Katakanlah (Muhammad): "Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu kalian bergembira." (Qs. Yunus [10]: 58)
TARIKH IDUL FITHRI
Idul Fithri mulai disyari'atkan pada tahun ke-2 Hijriyah, bersamaan dengan diwajibkannya shaum Ramadhan. Setelah kaum muslimin menyempurnakan shaum Ramadhan pertama, Rasulullah saw. menetapkan hari raya Idul Fithri sebagai hari ibadah, kegembiraan, dan syiar Islam. (al-Bidayah wa al-Nihayah, III: 117)
Ketika Rasulullah saw. hijrah dari Makkah ke Madinah, beliau mendapati dua hari raya kaum Jahiliyah Madinah yang mana mereka bermain-main dan bersenang-senang di dalamnya; an-Nairuz atau an-Nauruz dan al-Mihrajan yang pada dua hari itu cuacanya tidak panas dan tidak pula dingin, baik ketika siang ataupun malam.
عَنْ أَنَسٍ قَالَ: قَدِمَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ، وَلِأَهْلِ الْمَدِينَةِ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا، فَقَالَ: قَدِمْتُ عَلَيْكُمْ وَلَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا، وَإِنَّ اللهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ يَوْمَيْنِ خَيْرًا مِنْهُمَا: يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ النَّحْرِ.
Dari Anas, ia berkata: Rasulullah saw. datang ke Madinah yang saat itu penduduknya mempunyai dua hari yang mereka gunakan untuk bersenang-senang. Maka beliau bersabda: "Aku datang kepada kalian sedang kalian mempunyai dua hari untuk bersenang-senang pada keduanya, sungguh Allah telah menggantinya dengan dua hari yang lebih baik dari keduanya; Idul Fithri dan Idul Adha." (Hr. Ahmad, Musnad Ahmad, V: 2714, no. 12967; Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, I: 441, no. 1134; an-Nasaiy, Sunan an-Nasaiy, I: 334, no. 1557)
Kemudian Allah swt. mengganti dua hari raya Jahiliyah itu dengan hari raya Islam, yaitu Idul Fithri dan Idul Adha; tidak ada hari raya yang baik selain Idul Fithri dan Idul Adha. At-Thibiy berkata: Rasulullah saw. melarang bersenda gurau dan bersenang-senang di hari raya an-Nairuz dan al-Mihrajan, dan beliau memerintah untuk beribadah (pada Idul Fithri dan Idul Adha); karena kesenangan dan kebahagian yang hakiki adalah sebagaimana yang Allah swt. firmankan:
قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا.
Katakanlah (Muhammad): "Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu kalian bergembira." (Qs. Yunus [10]: 58)
قَالَ الْمُظْهِرُ: فِيهِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ تَعْظِيمَ النَّيْرُوزِ وَالْمِهْرَجَانِ وَغَيْرِهِمَا أَيْ مِنْ أَعْيَادِ الْكُفَّارِ مَنْهِيٌّ عَنْهُ.
Al-Muzhir berkata: "Padanya terdapat sebuah petunjuk bahwa mengagungkan (merayakan) hari raya an-Nairuz, al-Mihrajan, dan hari raya lainnya itu dilarang merayakannya." ('Aun al-Ma'bud, I: 441)
Ketika seorang muslim merasa bangga dengan selain hari raya yang telah disyariatkan, maka hal tersebut dapat menyebabkan, (1) hilangnya rasa benci kepada orang kafir di dalam hatinya, (2) menghilangkan rasa berlepas diri dari mereka dan dari perbuatan mereka.
AMALIYAH IDUL FITHRI
Sebagaimana dijelaskan di atas bahwa merayakan Idul Fithri bukan sekadar tradisi Islam, melainkan bagian dari menjalankan syari'at agama. Berikut amaliyah Idul Fithri yang disyari'atkan:
1. Menunaikan zakat fithri
عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: فَرَضَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ، صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ، عَلَى الْعَبْدِ وَالْحُرِّ، وَالذَّكَرِ وَالْأُنْثَى، وَالصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ، وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلَاةِ .
Dari Ibnu Umar ra. ia berkata: "Rasulullah saw. telah mewajibkan zakat fithri satu sha' dari kurma atau satu sha' dari kacang gandum atas hamba sahaya maupun merdeka, laki-laki maupun perempuan, anak kecil maupun orang dewasa dari kalangan orang-orang muslim, dan beliau memerintahkan supaya menunaikannya sebelum orang keluar untuk shalat Idul Fithri." (Hr. al-Bukhariy, Shahih al-Bukhariy, II: 130, no. 1503)
عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَأْمُرُ بِإِخْرَاجِ الزَّكَاةِ قَبْلَ الْغُدُوِّ لِلصَّلَاةِ يَوْمَ الْفِطْرِ.
Dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah saw. memerintah untuk mengeluarkan zakat fithri pada hari Idul Fithri sebelum pergi shalat. (Hr. at-Tirmidziy, Sunan at-Tirmidziy, II: 55, no. 677)
Maka jelaslah makna yaumul fithri itu bukan malam hari dan bukan pula sepanjang hari raya, tapi sebagiannya saja, yaitu sejak terbit fajar hingga selesai shalat hari Idul Fithri setempat. Imam Ibnu Hajar al-'Asqalaniy menukil pertakatan Ibnu at-Tiin:
قبل خروج الناس إلى صلاة العيد وبعد صلاة الفجر.
Sebelum orang keluar untuk shalat Idul Fithri dan setelah shalat shubuh. (Fath al-Bariy, III: 375)
2. Mandi sebelum shalat Idul Fithri
أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَغْتَسِلُ يَوْمَ الْفِطْرِ، وَيَوْمَ النَّحْرِ.
Bahwa Rasulullah saw. senantiasa mandi pada hari Idul Fithri dan Idul Adha. (Hr. Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, II: 347, no. 1316)
3. Menggunakan pakaian paling bagus
رَوَى بْنُ أَبِي الدُّنْيَا وَالْبَيْهَقِيُّ بِإِسْنَادٍ صَحِيْحٍ إِلَى بْنِ عُمَرَ أَنَّهُ كَانَ يَلْبَسُ أَحْسَنَ ثِيَابِهِ فِي الْعِيدَيْنِ.
Ibnu Abi ad-Dunya dan al-Baihaqiy meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Ibnu Umar bahwa ia memakai pakaian yang paling bagus di dua hari raya. (Fath al-Bariy, II: 439)
وَكَانَ يَلْبَسُ لِلْخُرُوجِ إِلَيْهِمَا أَجْمَلَ ثِيَابِهِ.
Keadaan Nabi saw. memakai pakaian paling bagus untuk keluar shalat Idul Fithri dan Idul Adha. (Zad al-Ma'ad fi Hadyi Khayr al-'Ibad, Hal. 425)
4. Makan terlebih dahulu sebelum shalat Idul Fithri
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ الْفِطْرِ وَالنَّحْرِ.
Dari Abu Sa'id ra. ia berkata: "Nabi saw. melarang shaum saat Idul Fithri dan Idul Adha." (Hr. al-Bukhariy, Shahih al-Bukhariy, III: 42, no. 1991)
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ يَغْدُو يَوْمَ الفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ تَمَرَاتٍ.
Dari Abu Sa'id ra. ia berkata: "Keadaan Nabi saw. tidak berangkat shalat Idul Fithri sampai beliau makan beberapa butir kurma kering." (Hr. al-Bukhariy, Shahih al-Bukhariy, II: 17 no. 953)
5. Bertakbir saat keluar rumah
عَنْ ابْنِ عُمَرَ: أَنَّ النَّبِيَّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - كَانَ يَرْفَعُ صَوْتَهُ بِالتَّكْبِيرِ وَالتَّهْلِيلِ حَالَ خُرُوجِهِ إلَى الْعِيدِ يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْتِيَ الْمُصَلَّى.
Dari Ibnu Umar, bahwa Nabi saw. bertakbir dan bertahlil dengan suara yang keras dari mulai keluar hendak pergi shalat Idul Fithri sampai ke lapangan. (Hr. al-Baihaqiy; Nail al-Authar, III: 343)
Hadits di atas menunjukkan bahwa waktu takbiran ialah saat keluar rumah sampai ke lapangan, bukan sejak malam lebaran atau ba'da shubuh. Adapun lafazh takbiran sebagaimana berikut:
عَنْ أَبِي عُثْمَانَ النَّهْدِيِّ قَالَ: كَانَ سَلْمَانُ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- يُعَلِّمُنَا التَّكْبِيرَ، يَقُولُ: كَبِّرُوا: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا.
Dari Abu Utsman an-Nahdiy, ia berkata: Salman ra. mengajarkan takbir kepada kami, seraya berkata: "Bertakbirlah: Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Kabira." (Hr. al-Baihaqiy, as-Sunan al-Kubra, III: 316, no. 6371)
عَنْ عَبْدِ اللهِ، أَنَّهُ: «كَانَ يُكَبِّرُ صَلَاةَ الْغَدَاةِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ، وَيَقْطَعُ صَلَاةَ الْعَصْرِ مِنْ يَوْمِ النَّحْرِ، يُكَبِّرُ إِذَا صَلَّى الْعَصْرَ» ، قَالَ: وَكَانَ يُكَبِّرُ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.
Dari Abdullah, bahwa ia bertakbir sejak (selesai) shalat shubuh pada hari Arafah (9 Dzulhijjah) dan berhenti pada shalat ashar di hari penyembelihan (10 Dzulhijjah), setelah shalat ashar beliau bertakbir, dia (rawi) berkata: "Kana yukabbiru Allahu Akbar Allahu Akbar, Laa ilaha illa Allah, wa Allah Akbar Allahu Akbar wa lillah al-Hamd." (Hr. at-Thabrani, al-Mu'jam al-Kabir, IX: 307, no. 9538)
6. Pergi dan pulang dengan jalan yang berbeda
عَنْ جَابِرٍ قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ يَوْمُ عِيدٍ خَالَفَ الطَّرِيقَ.
Dari Jabir, ia berkata: "Keadaan Nabi saw. pada hari 'Id (pergi dan pulang) dengan jalan yang berbeda." (Hr. al-Bukhariy, Shahih al-Bukhariy, II: 23, no. 986)
7. Shalat dan mendengarkan khutbah
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: شَهِدْتُ العِيدَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَأَبِي بَكْرٍ، وَعُمَرَ، وَعُثْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ، فَكُلُّهُمْ كَانُوا يُصَلُّونَ قَبْلَ الخُطْبَةِ.
Dari Ibnu Abbas, ia berkata: "Aku menyaksikan 'Id bersama Rasulullah saw., Abu Bakar, Umar, dan Utsman ra. maka semuanya shalat 'Id sebelum khutbah." (Hr. al-Bukhariy, Shahih al-Bukhariy, II: 18, no. 962)
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ وَالْأَضْحَى إِلَى الْمُصَلَّى، فَأَوَّلُ شَيْءٍ يَبْدَأُ بِهِ الصَّلَاةُ، ثُمَّ يَنْصَرِفُ، فَيَقُومُ مُقَابِلَ النَّاسِ، وَالنَّاسُ جُلُوسٌ عَلَى صُفُوفِهِمْ، فَيَعِظُهُمْ وَيُوصِيهِمْ وَيَأْمُرُهُمْ.
Dari Abu Sa'id al-Khudriy, aia berkata: "Keadaan Rasulullah saw. keluar pada hari Idul Fithri dan Idul Adha ke lapang, yang pertama dia lakukan adalah shalat, kemudian berpaling dan berdiri menghadap orang-orang, sedangkan orang-orang berada di shaf-shaf mereka, kemudian beliau memberi nasihat, wasiat, dan memerintah mereka." (Hr. al-Bukhariy, Shahih al-Bukhariy, II: 17, no. 956)
Adapun kaifiyat (tata cara) shalat Idul Fithri itu dua rakaat; rakaat pertama dengan tujuh kali takbir dan rakaat kedua dengan lima kali takbir, tidak diawali dengan adzan, iqamat, ucapan 'as-Shalatu Jami'ah', shalat qabla, dan shalat ba'da.
وَكَانَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا انْتَهَى إِلَى الْمُصَلَّى أَخَذَ فِي الصَّلَاةِ مِنْ غَيْرِ أَذَانٍ وَلَا إِقَامَةٍ وَلَا قَوْلِ: الصَّلَاةُ جَامِعَةٌ، وَالسُّنَّةُ: أَنَّهُ لَا يُفْعَلُ شَيْءٌ مِنْ ذَلِكَ. وَلَمْ يَكُنْ هُوَ وَلَا أَصْحَابُهُ يُصَلُّونَ إِذَا انْتَهَوْا إِلَى الْمُصَلَّى شَيْئًا قَبْلَ الصَّلَاةِ وَلَا بَعْدَهَا.
Keadaan Nabi saw. apabila sampai di lapangan, beliau memulai shalat tanpa diawali dengan adzan, iqamat, dan tidak mengatakan 'as-Shalatu Jami'ah'. Sunnahnya, bahwa Nabi saw. tidak melakukan apapun selain langsung shalat. Dan keadaan Nabi saw. dan para sahabatnya, apabila sampai di lapangan, tidak shalat qabla dan tidak shalat ba'da. (Zad al-Ma'ad fi Hadyi Khayr al-'Ibad, Hal. 427)
حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ سَمِعَهُ مِنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَبَّرَ فِي عِيدٍ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ تَكْبِيرَةً: سَبْعًا فِي الْأُولَى، وَخَمْسًا فِي الْآخِرَةِ . وَلَمْ يُصَلِّ قَبْلَهَا وَلَا بَعْدَهَا.
Waki' telah menceritakan kepada kami, Abdullah bin Abdurrahman telah menceritakan kepada kami, ia telah mendengarnya dari Amr bin Syu'aib, dari bapaknya, dari kakeknya, bahwa Nabi saw. bertakbir pada shalat 'Id dua belas kali takbir: tujuh kali takbir di rakaat pertama dan lima kali takbir di rakaat kedua. Beliau tidak shalat sebelumnya dan sesudahnya. (Hr. Ahmad, Musnad Ahmad, III: 1407, no. 6802)
وَكَانَ يَبْدَأُ بِالصَّلَاةِ قَبْلَ الْخُطْبَةِ، فَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ، يُكَبِّرُ فِي الْأُولَى سَبْعَ تَكْبِيرَاتٍ مُتَوَالِيَةٍ بِتَكْبِيرَةِ الِافْتِتَاحِ، يَسْكُتُ بَيْنَ كُلِّ تَكْبِيرَتَيْنِ سَكْتَةً يَسِيرَةً، وَلَمْ يُحْفَظْ عَنْهُ ذِكْرٌ مُعَيَّنٌ بَيْنَ التَّكْبِيرَاتِ.
Lalu keadaan Nabi saw. memulai dengan shalat sebelum khutbah, lalu beliau shalat 'Id dua rakaat, beliau bertakbir tujuh kali takbir secara berturut-turut dengan takbir iftitah pada rakaat pertama, beliau diam di antara dua takbir dengan diam yang sebentar, dan tidak diriwayatkan dari Nabi saw. ada dzikir khusus di antara takbir-takbir. (Zad al-Ma'ad fi Hadyi Khayr al-'Ibad, Hal. 427)
Khutbah Idul Fithri dilaksanakan satu kali saja. Tidak terdapat hadits yang shahih mengenai adanya khutbah Idul Fithri dua kali sebagaimana khutbah jum'at.
قال النووي: لم يثبت في تكرير الخطبة شئ.
Imam an-Nawawiy berkata: "Tidak ada hadits mengenai pengulangan khutbah sedikitpun." (Fiqh as-Sunnah: I: 322)
Materi khutbah dianjurkan mencakup: (1) memerintah untuk bertakwa kepada Allah swt. dan bersedekah, (2) memotivasi dalam ketaatan, dan (3) menasehati dan mengingatkan mereka.
عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ. قَالَتْ: أَمَرَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَنْ نُخْرِجَهُنَّ فِي الْفِطْرِ وَالْأَضْحَى، الْعَوَاتِقَ وَالْحُيَّضَ وَذَوَاتِ الْخُدُورِ. فَأَمَّا الْحُيَّضُ فَيَعْتَزِلْنَ الصَّلَاةَ وَيَشْهَدْنَ الْخَيْرَ وَدَعْوَةَ الْمُسْلِمِينَ. قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ! إِحْدَانَا لَا يَكُونُ لَهَا جِلْبَابٌ. قَالَ: لِتُلْبِسْهَا أُخْتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا .
Dari Ummu 'Athiyyah, ia berkata: "Rasulullah saw. memerintahkan kami supaya mengeluarkan untuk shalat Idul Fithri dan Idul Adha para gadis, perempuan yang sedang haid, dan perempuan yang sedang dipinggit. Adapun yang sedang haid tidak ikut shalat, namun turut menyaksikan kebaikan dan dakwah orang-orang muslim." Aku bertanya: "Wahai Rasulullah! Di antara kami ada yang tidak punya jilbab." Sabdanya: "Hendaklah saudaranya yang mempunyai jilbab memakaikannya." (Hr. Muslim, Shahih Muslim, III: 20, no. 890)
Hadits di atas juga menunjukkan bahwa perempuan yang sedang haid pun turut pergi ke lapangan hanya untuk mendengarkan khutbah (tidak ikut shalat). Sebab Idul Fithri -sebagaimana yang sudah dijelaskan di atas- hari dimana semua kaum muslimin berkumpul untuk menyiarkan Islam.
8. Saling mendoakan (tahniah)
عن جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ قَالَ: كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اِلْتَقَوْا يَوْمَ الْعِيدِ يَقُولُ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ: تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكَ.
Dari Jubair bin Nufair, ia berkata: "Para sahabat Rasulullah saw. apabila saling bertemu pada hari 'Id mereka saling mengucapkan, Taqabbalallahu minnaa waminka." (Fiqh al-Sunnah, I: 274 dan Fath al-Bariy, III: 121)
وَفِي رِوَايَةِ الزَّاهِرِ بِسَنَدٍ حَسَنٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ زِيَادٍ الإِلْمَانِيِّ، قَالَ: رَأَيْتُ أَبَا أُمَامَةَ الْبَاهِلِيَّ يَقُولُ فِي الْعِيدِ لِأَصْحَابِهِ: تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ.
Dalam riwayat az-Zahir dengan sanad hasan dari Muhammad bin Ziyad al-Ilmaniy, ia berkata: Aku melihat Abu Umamah al-Bahiliy berkata di hari Idul Fithri kepada sahabatnya: "Semoga Allah menerima (amal ibadah) kami dan kalian." (Wushul al-Amaniy bi Ushul al-Tahaniy, Hal. 66-67)
Hadits di atas merupakan praktek tahniah shahabat Nabi saw. Adapun hadits tentang praktek tahniah Nabi saw. itu haditsnya dha'if bahkan maudhu'.
Pengamalan doa tahniah ini tidak hanya berlaku hari Idul Fithri saja, dan tidak ditemukan batasan waktu akhirnya, tergantung adat atau selama masih ada momen tersebut. Redaksi doa tahniah adalah 'Taqabballaahu minna wa minka' atau 'Taqabbalaahu minna wa minkum.' Sedangkan tambahan lainnya selain kalimat tersebut, kami belum menemukan riwayatnya.
Adapun tahniah dengan redaksi 'Minal Aidin wal Faizin' tidak ditemukan sumber asalnya. Kalimat itu sering diartikan atau dimaknai mohon maaf lahir dan batin. Bahkan dianggap bahwa redaksi tahniah itu bagian dari sunah Nabi saw. Jelas, bahwa hal tersebut jauh dari kata benar.
والله أعلم بمراده